VISUALISASI REFLEKSI KEJAHATAN KEKERASAN DALAM MURAL DI KELURAHAN KEDOYA UTARA, JAKARTA BARATVISUALISASI REFLEKSI KEJAHATAN KEKERASAN DALAM MURAL DI KELURAHAN KEDOYA UTARA, JAKARTA BARAT

VISUALISASI REFLEKSI KEJAHATAN KEKERASAN DALAM MURAL DI KELURAHAN KEDOYA UTARA, JAKARTA BARAT

  • Chazizah Gusnita
Keywords: Mural, Konflik, Kriminologi Visual, Kejahatan Kekerasan

Abstract

ABSTRAK
Mural termasuk salah satu bentuk dari seni visual. Mural bukan seni yang berdiri tanpa adanya makna,
melainkan ia berdiri dengan ribuan pesan yang terkandung di dalamnya. Seiring perkembangan zaman dan
peradaban manusia, mural mengalami transformasi dari sebuah media ritual menjadi salah satu kaya seni
pelengkap elemen ruang seperti; dinding, langit-langit, dan permukaan datar lainnya. Pada hakikatnya
mural terbentuk melalui tangan para pemuda yang dinilai anarkis oleh sebagian masyarakat umum, oleh
sebab itu maka tidak jarang mural disebut sebagai polusi pemandangan. Namun kegiatan Pengabdian yang
dilakukan ini justru untuk mencegah kejahatan melalui seni mural. Mural yang distigma buruk berganti
makna dengan nilai positif. Bahkan mural akan menjadi ‘iklan” bermanfaat bagi pencegahan kejahatan
kekerasan di masyarakat. Di sisi lain, tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bukan hanya aksi
mencoret-coret dinding. PKM ini melibatkan sejumlah elemen pekerja seni dan komunitas agar mural
tampak “real”. Metode PKM ini juga merupakan realisasi dari kriminologi visual dengan membawa
mahasiswa dalam pelatihan visualisasi kriminal. Ada sekitar 10 meter dinding yang disediakan dalam
realisasi kegiatan mural di wilayah Jakarta Barat. Dengan menggunakan sejumlah cat dan kuas,
pelaksanaan mural ini dilakukan pengerjaannya selama 1 hari. Hasilnya, sejumlah masyarakat yang
berdomisili di wilayah sekitar dapat melihat mural yang dibuat sebagai bentuk pencegahan kejahatan
kekerasan. Bahkan, beberapa warga di sekitar lokasi mengharapkan kegiatan ini tetap terlaksana di RT yang
lain.

Published
2018-11-16