Burnout dan Kejutan Generasional: Menguji Ulang Pengaruh Gender dan Orientasi Budaya yang Tergeser oleh Faktor Usia
Abstract
Burnout merupakan permasalahan psikologis dalam lingkungan kerja modern yang ditandai oleh tuntutan kinerja tinggi dan perubahan organisasi yang cepat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh gender dan orientasi budaya (individualisme–kolektivisme), terhadap kecenderungan burnout pada pegawai.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan metode cross-sectional, melibatkan 140 pekerja aktif sebagai responden. Burnout diukur menggunakan
Maslach Burnout Inventory (MBI), sedangkan orientasi budaya diukur menggunakan skala INDCOL. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik ordinal karena tingkat burnout dikategorikan ke dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender (B = -0,485, p = 0,147) dan orientasi budaya (B = -0,112, p = 0,738) tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout. Namun, terdapat variabel lain, yakni generasi, yang terbukti berperan sebagai prediktor signifikan, di mana pegawai Generasi Z (B = 1,880,
p < 0,001) dan Milenial (B = 1,017, p = 0,028) memiliki kecenderungan burnout yang lebih tinggi dibandingkan Generasi X. Temuan ini menunjukkan bahwa burnout lebih berkaitan dengan tahap perkembangan usia dan fase karir dibandingkan faktor identitas sosial, sehingga intervensi burnout perlu dirancang secara kontekstual dan sensitif terhadap perbedaan generasi.
Kata Kunci: Burnout, Gender, Orientasi Budaya, Lingkungan Kerja.