Ikon --Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON en-US ilonaoisina@yahoo.com (Ilona V. Oisina Situmeang) ilonaoisina@yahoo.com (Ilona V. Oisina Situmeang) Fri, 10 Jul 2026 09:51:43 +0700 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KAMPANYE DESAK ANIES YOGYAKARTA PADA MEDIA ONLINE METROTVNEWS.COM DAN VIVA.CO.ID (PERIODE 23 – JANUARI 25 JANUARI 2024) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6964 <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui framing yang diterapkan oleh media online Metrotvnews.com dan Viva.co.id, serta untuk mengetahui perbedaan dalam penyajian berita dari Metrotvnews.com dan Viva.co.id. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing model Robert N. Entman, dalam konsep Entman framing pada hakikatnya merujuk pada empat elemen, yakni Define Problems, Diagnose Cause, Make Moral Judgment dan Treatment recommendation. Dari analisis empat berita yang diteliti dari media online Metrotvnews.com dan empat berita dari Viva.co.id terbilang mempunyai perspektif atau cara pandang yang berbeda dalam memahami bagaimana suatu peristiwa dipahami dan dimaknai. Kedua media tersebut memiliki perspektif atau cara pandang dalam menyeleksi isu dalam menuliskan berita Kampanye ‘Desak Anies’ Yogyakarta, sehingga wartawan dari kedua media tersebut bisa menentukan fakta apa yang akan diambil, fakta apa yang akan ditekankan atau dihilangkan dan akan ke arah mana berita tersebut dibawa.<br>Kata kunci : Analisis Framing Pemberitaan, Desak Anies, Media Online</p> Anggi Pavilda Ariestiawan Putra, Dwi Ajeng Widarini, Dian Ismi Islami Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6964 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700 Normal Pressure Hydrocephalus with Stroke History: A Case Report and Literature Review https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6965 <p>Normal pressure hydrocephalus (NPH) is characterized by enlarged ventricles despite normal intracranial pressure, caused by an abnormal build up of cerebrospinal fluid (CSF).It typically presents with the classic triad of symptoms: gait and balance disturbances, urinary<br>incontinence, and cognitive decline. Unlike many other dementias, NPH is notable because it can often be reversed through surgical intervention, most commonly with ventriculoperitoneal shunt placement, which remains the standard treatment. Case Illustration: A 73-years-old<br>male presented with loss of consciousness over the past six days, with worsening symptomsone day prior to admission. Associated symptoms included blank stare, no eye contact while&nbsp; communicating, and blisters all over the body due to a long period of bed rest. He denied any episodes of fever, cough, runny nose, diarrhea, headache, seizure, vomiting, abdominal pain,or fall. There was a history of stroke attacks that happened twice in 2023 and 2024 with sequelae aphasia since then. CT Scan revealed acute lacunar infarct in nucleus lentiformis<br>dextra, no intracranial haemorrhage presented, cerebral atrophy with ventriculomegaly exvacuo confirmed, there are ethmoidalis and frontalis sinusitis. The patient then treated with ventriculoperitoneal shunt but then passed away two days after the surgery.</p> <p>Keywords: Hydrocephalus, Stroke, CSF</p> Siti Amalina, Feda Anisah Makkiyah Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6965 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700 Burnout dan Kejutan Generasional: Menguji Ulang Pengaruh Gender dan Orientasi Budaya yang Tergeser oleh Faktor Usia https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6966 <p>Burnout merupakan permasalahan psikologis dalam lingkungan kerja modern yang ditandai oleh tuntutan kinerja tinggi dan perubahan organisasi yang cepat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh gender dan orientasi budaya (individualisme–kolektivisme), terhadap kecenderungan burnout pada pegawai.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan metode cross-sectional, melibatkan 140 pekerja aktif sebagai responden. Burnout diukur menggunakan<br>Maslach Burnout Inventory (MBI), sedangkan orientasi budaya diukur menggunakan skala INDCOL. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik ordinal karena tingkat burnout dikategorikan ke dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender (B = -0,485, p = 0,147) dan orientasi budaya (B = -0,112, p = 0,738) tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout. Namun, terdapat variabel lain, yakni generasi, yang terbukti berperan sebagai prediktor signifikan, di mana pegawai Generasi Z (B = 1,880,<br>p &lt; 0,001) dan Milenial (B = 1,017, p = 0,028) memiliki kecenderungan burnout yang lebih tinggi dibandingkan Generasi X. Temuan ini menunjukkan bahwa burnout lebih berkaitan dengan tahap perkembangan usia dan fase karir dibandingkan faktor identitas sosial, sehingga intervensi burnout perlu dirancang secara kontekstual dan sensitif terhadap perbedaan generasi.<br>Kata Kunci: Burnout, Gender, Orientasi Budaya, Lingkungan Kerja.</p> Fitria Rahayu, Andry Yanti, Aneuke Yu’dzia Mirzalline, Anjani Arum Safitri, Azzahra Tsabitha Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6966 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700 Self-Awareness untuk Memperkuat Talenta Diri, Kesiapan Karier dan Mental Wirausaha Taruna Politeknik AUP Jakarta https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6969 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan psikologis yang memengaruhi kesiapan wirausaha pada Taruna tingkat akhir Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Jakarta, dengan fokus pada kesadaran diri, kesadaran talenta, dan ketakutan akan kegagalan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan melibatkan 42 Taruna semester 8 Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan sebagai responden survei, serta 12 partisipan yang dipilih secara purposive untuk wawancara mendalam. Data dikumpulkan melalui kuesioner self-report menggunakan skala Likert 1–5 untuk mengukur dimensi career indecision, kesadaran talenta, efikasi diri karier, tekanan sosial, dan konstrual diri, serta wawancara mendalam untuk menggali dinamika psikologis yang mendasari pengambilan keputusan karier. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan pendekatan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama dalam kesiapan berwirausaha bukan terletak pada kompetensi teknis, melainkan pada faktor psikologis internal, terutama ketidakmampuan mengenali talenta diri (talent blindness) dan dominasi ketakutan akan kegagalan. Temuan kuantitatif menunjukkan tingkat kebimbangan karier dan efikasi diri yang berada pada kategori sedang, sementara hasil kualitatif mengungkap adanya internalisasi tekanan sosial serta preferensi terhadap stabilitas pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Penelitian ini menegaskan bahwa kesiapan wirausaha pada pendidikan vokasi dipengaruhi secara signifikan oleh faktor kesadaran diri dan regulasi emosi terhadap risiko, sehingga diperlukan intervensi psikoedukasi untuk memperkuat kesiapan mental wirausaha.<br>Kata kunci: kesadaran diri, kesadaran talenta, ketakutan akan kegagalan, efikasi diri karier, kewirausahaan perikanan</p> Ahmad Jindan, Arbi Alfarisi, Desty Rosania, Dwi Sulistyorini Amidjono, Sofi Nurul Aini, Wening Indah Ingtyas, Wiwik Sulistyaningsih Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6969 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700 Kondisi Psikososial Usia Lanjut pada Komunitas Pelita di Pondok Jagung, Tangerang Selatan https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6970 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi psikososial usia lanjut pada Komunitas Pelita di Perumahan<br>Pondok Jagung RT 04 RW 04, Serpong Utara, Tangerang Selatan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif<br>dengan metode observasi dan wawancara terstruktur terhadap 20 partisipan usia lanjut yang berusia 60 tahun ke<br>atas, penelitian ini mengeksplorasi enam dimensi psikososial: goal directedness, meaningfulness, future<br>orientation, personal value/contribution, emotional loneliness, dan social loneliness. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa sebagian besar usia lanjut masih aktif secara sosial dan mengarah pada kondisi ego integrity (Erikson),<br>ditandai dengan rasa syukur, penerimaan diri, dan kebermaknaan hidup. Namun, terdapat kerentanan emosional<br>berupa kerinduan terhadap keluarga yang tinggal jauh. Temuan ini selaras dengan Activity Theory (Havighurst)<br>yang menekankan pentingnya keterlibatan sosial berkelanjutan, serta teori kebutuhan Maslow mengenai rasa<br>memiliki dan penghargaan. Kegiatan sosial berbasis komunitas terbukti efektif sebagai intervensi psikologis nonklinis<br>yang promotif dalam mendukung kesejahteraan psikologis usia lanjut.<br>Kata kunci: usia lanjut, kondisi psikososial, kesejahteraan psikologis, dukungan sosial, komunitas, Interaksi Sosial Rekreatif</p> Ratih Aryani, Aida Fatonah Nursyamsiah, Githa Nadia Erlita Putri, Nur Izzah Jamilah, Novi Yani, Andi Nirmala Syahidah L, Wiwik Sulistyaningsih Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6970 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700 Gambaran Psychological Well-Being pada Komunitas Usia Lanjut di Panti Wreda Husnul Khotimah Tangerang https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/7085 <p>Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan menggambarkan psychological well-being seluruh 27 penghuni Panti Wreda Husnul Khotimah, Tangerang, berusia 60-100 tahun, menggunakan kerangka enam dimensi Ryff (1989). Data dikumpulkan melalui tiga metode: (1) Focus Group Discussion (FGD) dengan 10 lansia kelompok active aging berfokus pada eksplorasi keenam dimensi psychological well-being; (2) observasi perilaku non-verbal terstruktur pada 17 lansia kelompok inactive aging yang dikategorisasi dalam empat tingkat kesehatan; serta (3) wawancara mendalam dengan tiga pengurus panti. Data FGD dianalisis menggunakan analisis tematik refleksif (Braun &amp; Clarke, 2023); triangulasi sumber dilakukan untuk memperkuat validitas. Hasil menunjukkan bahwa pada kelompok active aging, dimensi penerimaan diri, hubungan positif, dan tujuan hidup berada pada level tinggi ditopang spiritualitas, kohesi sosial antarsesama penghuni, serta aktivitas berkebun dan memasak bersama; sementara otonomi berada pada level rendah akibat keterbatasan struktural sistem pengelolaan panti. Pada kelompok inactive aging, profil psychological well-being bervariasi dari sedang-tinggi (Tingkat Kesehatan I) hingga tidak dapat dinilai penuh (Tingkat Kesehatan IV). Spiritualitas dan kualitas relasi sosial merupakan faktor protektif yang konsisten lintas kelompok.<br>Kata kunci: psychological well-being, lanjut usia, panti wreda, active aging, inactive aging, spiritualitas</p> Andry Yanti, Anjani Arum Safitri, Fitria Rahayu, Aneuke Yu’dzia Mirzalline, Azzahra Tsabitha Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/7085 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700 Pengelolaan Konflik Peran Melalui Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa Pekerja https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6971 <p>Fenomena mahasiswa yang bekerja sambil kuliah semakin meningkat seiring dengan tuntutan ekonomi, kebutuhan pengembangan diri, dan persiapan memasuki dunia kerja. Kondisi tersebut menyebabkan mahasiswa harus menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja yang berpotensi menimbulkan konflik peran. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa pekerja mengelola konflik peran melalui komunikasi interpersonal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Informan penelitian terdiri dari tiga mahasiswa yang aktif bekerja sambil kuliah. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman,dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami konflik peran berupa benturan jadwal, keterbatasan waktu, dan tekanan akademik maupun pekerjaan. Komunikasi interpersonal menjadi strategi utama dalam mengelola konflik tersebut melalui negosiasi peran dengan dosen dan atasan, memperoleh dukungan sosial dari keluarga dan teman, serta melakukan klarifikasi untuk mencegah miskomunikasi. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pengalaman menjalani peran ganda berkontribusi terhadap pengembangan kompetensi komunikasi dan kesiapan profesional mahasiswa. Berdasarkan Teori Konflik Peran, komunikasi interpersonal berperan sebagai mekanisme adaptasi yang membantu mahasiswa mempertahankan keseimbangan antara tuntutan akademik dan pekerjaan.</p> <p>Kata kunci: konflik peran, komunikasi interpersonal, mahasiswa pekerja, peran ganda,dukungan sosial.</p> Marisca Siti Erlianti, Lita Audya Tamara, Melinda Pauned Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/6971 Thu, 03 Dec 2026 00:00:00 +0700