KEANEKARAGAMAN JENIS DAN BIOAKUSTIK KELELAWAR DI TAMAN WISATA ALAM RUTENG, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR
Abstract
Informasi mengenai keanekaragaman dan karakter akustik kelelawar (Chiroptera) di
kawasan konservasi sunda kecil, khususnya Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, Pulau
Flores, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman jenis
kelelawar pada enam tipe tutupan lahan serta mengarakterisasi parameter bioakustik
kelelawar ber-ekolokasi di kawasan tersebut. Pengambilan data dilakukan pada April–Mei
2026 menggunakan jaring kabut (mist net) dan perangkap harpa (harp trap), serta
perekaman suara menggunakan detektor Pettersson M500. Hasil penelitian mencatat 28
individu kelelawar dari dua jenis dan dua famili, yaitu Cynopterus nusatenggara
(Pteropodidae, 24 individu) dan Myotis muricola (Vespertilionidae, 4 individu). Nilai indeks
keanekaragaman jenis (H') kumulatif tergolong rendah (0,41), indeks kekayaan jenis (Dmg)
rendah (0,30), indeks kemerataan (E) tinggi (0,75), dan indeks dominansi (C) tinggi (0,75),
yang dipengaruhi oleh komunitas kelelawar yang rendah. Habitat perkebunan tercatat
memiliki keanekaragaman tertinggi karena ketersediaan dua sumber pakan (buah dan
serangga) serta tempat bertengger pada daun pisang. Kesamaan komunitas Bray-Curtis
menunjukkan habitat perkebunan paling berbeda komposisi jenisnya (similaritas 0,42)
dibandingkan lima habitat lain (0,6–0,9). Myotis muricola menghasilkan panggilan
ekolokasi tipe frequency modulated (FM) dengan frekuensi puncak rata-rata 66,79 ± 4,27
kHz, frekuensi awal 98,74 ± 5,07 kHz, dan durasi pulsa 1,354 ± 0,21 ms. Kajian ini
mengindikasikan pentingnya kajian kelelawar di areal NTT, khususnya di Pulau Flores.
Kata kunci: bioakustik, Cynopterus nusatenggara, ekolokasi, Myotis muricola, SundaKecil, TWA Ruteng, Wallacea.

