Psikologi Kreatif Inovatif https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif <p>Psikologi Kreatif Inovatif sebagai publikasi tulisan artikel ilmiah di bidang Psikologi baik Psikologi Klinis maupun Psikologi Industri.</p> <p>&nbsp;</p> <p>E-ISSN:&nbsp;<a title="Psikologi Kreatif Inovatif" href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20210831231524019">2808-3849</a></p> <p>P-ISSN:&nbsp;<a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20211015321816428" target="_blank" rel="noopener">2808-4411</a></p> <p>DOI: <a href="https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive" target="_blank" rel="noopener">https://doi.org/10.37817/PsikologiKreatifInovatif</a></p> en-US rilla.sovitriana@gmail.com (Rilla Sovitriana) Tue, 20 Oct 2026 15:53:34 +0700 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Persepsi Player Valorant mengenai Strategi dan Pola gameplay yang Digunakan Team PRX pada VCT Pacific 2025 https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5327 <p>Strategi dalam esports merupakan elemen krusial dalam menentukan kesuksesan sebuah tim<br>di turnamen. Team Paper Rex (PRX) dikenal dengan gaya bermainnya yang agresif, inovatif, dan<br>tidak konvensional. Hal ini menarik perhatian komunitas pemain Valorant, yang ingin meniru<br>gaya mereka. Studi ini bertujuan untuk menginterpretasikan strategi dan pola permainan PRX di<br>VCT Pacific 2025 dan menganalisis bagaimana pemain lain telah menyerap strategi ini ke dalam<br>permainan mereka. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan<br>tinjauan pustaka, observasi rekaman pertandingan PRX, dan wawancara dengan pemain di<br>komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PRX, seperti entri frag cepat, rotasi<br>fleksibel, dan penggunaan agen di luar meta, dapat diserap oleh pemain melalui proses imitasi,<br>modifikasi, dan adaptasi terhadap kebutuhan tim.Namun, perbedaan tingkat keahlian, koordinasi,<br>dan ketersediaan sumber daya menghambat penyerapan sepenuhnya. Studi ini mengungkapkan<br>bahwa gaya bermain PRX tidak hanya memengaruhi dinamika pertandingan tingkat profesional,<br>tetapi juga memberikan inspirasi yang signifikan bagi komunitas pemain Valorant dalam<br>mengembangkan gaya bermain mereka sendiri.</p> <p>Strategy in esports is a crucial element in determining a team's success in tournaments. Team<br>Paper Rex (PRX) is known for its aggressive, innovative, and unconventional playstyle. This has<br>attracted the attention of the Valorant player community, who are eager to emulate their style. This<br>study aims to interpret PRX's strategies and gameplay patterns at the VCT Pacific 2025 and<br>analyze how other players have absorbed these strategies into their gameplay. The study used a<br>descriptive qualitative method with a literature review approach, observation of PRX match<br>recordings, and interviews with players in the community. The results show that PRX strategies,<br>such as fast frag entry, flexible rotation, and the use of out-of-meta agents, can be absorbed by<br>players through a process of imitation, modification, and adaptation to team needs. However,<br>differences in skill level, coordination, and resource availability hinder complete absorption. This<br>study reveals that PRX's playstyle not only influences the dynamics of professional-level matches<br>but also provides significant inspiration for the Valorant player community in developing their<br>own playstyle.</p> Neza Firda Arifah, Asti Evellyna Callysta, Rizky Amalia Sinulingga, Erindah Dimisyqiyani, Amaliyah Amaliyah, Gagas Gayuh Aji Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5327 Sun, 01 Mar 2026 00:00:00 +0700 Implementasi Kegagalan Komunikasi dalam Kontroversi Film Merah Putih One For All https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5330 <p>Komunikasi memiliki peran vital dalam kehidupan manusia karena tidak hanya menyampaikan pesan,<br>tetapi juga membangun pemahaman, kepercayaan, dan interaksi sosial. Ketika komunikasi gagal, hal tersebut<br>dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, hingga kontroversi, sebagaimana terjadi pada film Merah Putih<br>One For All. Kontroversi ini muncul akibat perbedaan interpretasi antara pesan yang ingin disampaikan<br>produser dengan persepsi publik, khususnya terkait kualitas animasi, penggunaan simbol, dan alur cerita.<br>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis media untuk mengkaji implementasi<br>kegagalan komunikasi yang terjadi. Data dikumpulkan melalui pengamatan terhadap film, pernyataan produser,<br>artikel berita, hingga komentar publik di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan<br>komunikasi dalam film ini muncul dari beberapa aspek, antara lain kualitas animasi yang dianggap kaku dan di<br>bawah standar, penggunaan simbol senjata AK-47 yang ditafsirkan negatif oleh publik, serta respons produser<br>yang cenderung defensif. Selain itu, kritik dari publik dan tokoh perfilman semakin memperkuat persepsi<br>negatif. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan gaya komunikasi yang tepat dan transparan dalam<br>penyampaian pesan melalui media massa agar karya seni dapat diterima secara positif dan tidak menimbulkan<br>polemik.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Communication plays a vital role in human life, not only as a means of delivering messages but also in<br>building understanding, trust, and social interaction. When communication fails, it may lead to<br>misunderstanding, conflict, and even controversy, as seen in the case of the film Merah Putih One For All.<br>The controversy emerged from differences in interpretation between the producer’s intended message and the<br>public’s perception, particularly regarding the quality of animation, the use of symbols, and the storyline. This<br>study employs a qualitative method with media analysis techniques to examine the implementation of<br>communication failures in this controversy. Data were collected through observations of the film, producer<br>statements, news articles, and public comments on social media. The findings reveal that communication failure<br>stemmed from several aspects, including animation quality perceived as rigid and below standard, the use of an<br>AK-47 symbol interpreted negatively by the audience, and the producer’s defensive responses. Moreover,<br>criticism from the public and film experts further strengthened the negative perception. These findings highlight<br>the importance of choosing appropriate and transparent communication styles in conveying messages through<br>mass media so that artistic works can be positively received rather than sparking polemics</p> Eagan Guinter Pattirane, Asti Evellyna Callysta, Rizky Amalia Sinulingga, Erindah Dimisyqiyani, Amaliyah Amaliyah, Gagas Gayuh Aji Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5330 Sun, 01 Mar 2026 00:00:00 +0700 Interpretasi Gaya Kepemimpinan Otoriter Tokoh Cruella dan Kaitannya dengan Loyalitas Tim https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5334 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan gaya kepemimpinan otoriter yang<br>ditampilkan oleh tokoh Cruella dalam film Cruella (2021) serta menganalisis kaitannya<br>dengan loyalitas tim yang terdiri atas Jasper dan Horace. Penelitian menggunakan<br>pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif, di mana data diperoleh melalui<br>dokumentasi adegan dan dialog film yang berkaitan dengan pola kepemimpinan dan<br>respons anggota tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cruella sejak awal<br>menampilkan kepemimpinan yang bersifat otoriter, ditandai dengan dominasi penuh dalam<br>pengambilan keputusan serta instruksi sepihak. Namun, seiring berjalannya waktu, gaya<br>kepemimpinan yang semakin menekan memunculkan kejengkelan, hingga penurunan<br>loyalitas dari Jasper dan Horace. Meskipun demikian, film juga memperlihatkan bahwa<br>loyalitas dapat dipulihkan ketika pemimpin menunjukkan refleksi diri. Temuan ini<br>menegaskan bahwa kepemimpinan otoriter mampu menciptakan kepatuhan jangka pendek,<br>tetapi berisiko besar meruntuhkan loyalitas jangka panjang jika tidak diimbangi dengan<br>komunikasi yang sehat. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika<br>hubungan antara gaya kepemimpinan dan loyalitas tim, baik dalam konteks representasi<br>fiksi maupun dalam pembelajaran kepemimpinan di dunia nyata.</p> <p>&nbsp;</p> <p>This study aims to interpret the authoritarian leadership style portrayed by the character Cruella in<br>the film Cruella (2021) and to analyze its relation to the loyalty of the team consisting of Jasper<br>and Horace. The study uses a qualitative approach with a descriptive analysis method, in which<br>data were obtained through documentation of film scenes and dialogues related to leadership<br>patterns and team members’ responses. The results show that from the beginning Cruella displayed<br>an authoritarian style of leadership, characterized by full dominance in decision-making. However,<br>as time went on, the increasingly repressive leadership style gave rise to frustration, and even<br>decline in loyalty from Jasper and Horace. Nevertheless, the film also shows that loyalty can be<br>restored when a leader demonstrates self-reflection. These findings affirm that authoritarian<br>leadership can create short-term compliance but carries a great risk of undermining long-term<br>loyalty if it is not balanced with healthy communication. This study contributes to the<br>understanding of the dynamics of the relationship between leadership style and team loyalty, both<br>in the context of fictional representation and in leadership learning in real-world settings.</p> Avanka Caroline Sabila, Asti Evellyna Callysta, Erindah Dimisyqiyani, Amaliyah Amaliyah, Rizky Amalia Sinulingga, Gagas Gayuh Aji Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5334 Mon, 02 Mar 2026 00:00:00 +0700 Kenaikan Harga BBM dan Inflasi : Terhadap Perubahan Pola Konsumsi Rumah Tangga https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5335 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap<br>inflasi dan perubahan pola konsumsi rumah tangga di Indonesia. Menggunakan metode penelitian kualitatif<br>dengan pendekatan fenomenologis, data diperoleh melalui studi literatur, data sekunder, serta wawancara<br>konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM memicu inflasi yang bersifat cost-push,<br>meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang serta jasa. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap daya<br>beli masyarakat, terutama rumah tangga berpendapatan rendah yang sebagian besar penghasilannya digunakan<br>untuk kebutuhan pokok. Temuan memperlihatkan bahwa rumah tangga menyesuaikan pola konsumsi dengan<br>mengurangi pengeluaran non-esensial, mencari alternatif barang lebih murah, hingga menambah sumber<br>pendapatan. Namun, strategi adaptasi tersebut berimplikasi pada penurunan kualitas hidup dalam jangka<br>panjang, terutama pada aspek kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa<br>kebijakan kenaikan harga BBM perlu diimbangi dengan intervensi pemerintah yang lebih inklusif agar tidak<br>memperburuk kondisi kelompok rentan serta tetap mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan<br>(SDGs).</p> <p>&nbsp;</p> <p>This study aims to analyze the impact of fuel price increases on inflation and changes in household<br>consumption patterns in Indonesia. Using a qualitative research method with a phenomenological approach,<br>data were obtained through literature studies, secondary data, and conceptual interviews. The results indicate<br>that fuel price increases trigger cost-push inflation, increasing the production and distribution costs of goods<br>and services. This condition has a significant impact on people's purchasing power, especially low-income<br>households whose income is largely used for basic needs. The findings show that households adjust their<br>consumption patterns by reducing non-essential expenses, seeking cheaper alternatives, and increasing sources<br>of income. However, these adaptation strategies have implications for a long-term decline in quality of life,<br>particularly in aspects of health, education, and welfare. This study also emphasizes that fuel price increases<br>need to be balanced with more inclusive government interventions to avoid worsening the conditions of<br>vulnerable groups and continue to support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs).</p> Ananda Wahyu Ramdani, Asti Evellyna Callysta, Erindah Dimisyqiyani, Gagas Gayuh Aji, Rizky Amalia Sinulingga, Amaliyah Amaliyah Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/PsikologiKreatifInovatif/article/view/5335 Mon, 02 Mar 2026 00:00:00 +0700