City as Media: Pariwisata Bandung Sebagai Praktik Komunikasi Massa
Abstract
Pariwisata perkotaan di era media digital tidak lagi dapat dipahami semata sebagai aktivitas ekonomi
atau promosi destinasi, melainkan sebagai praktik komunikasi massa yang memproduksi dan
mendistribusikan makna kota. Artikel ini bertujuan untuk memahami bagaimana pariwisata Kota
Bandung beroperasi sebagai sistem komunikasi massa, di mana kota berfungsi sebagai medium,
pengalaman wisata sebagai pesan, dan wisatawan sebagai audiens sekaligus partisipan dalam
produksi makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data
dikumpulkan melalui studi literatur, diskusi kelompok terfokus (FGD), observasi, dan wawancara,
kemudian dianalisis secara interpretatif-tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata
Bandung memiliki intensitas komunikasi yang tinggi, namun ditandai oleh fragmentasi narasi dan
dominasi logika viralitas yang menghasilkan pengalaman wisata permukaan dan keterikatan makna
yang rendah. City branding cenderung beroperasi pada level citra visual, belum sepenuhnya sebagai
proses produksi makna kota. Artikel ini mengusulkan pendekatan storytelling corridor sebagai
model komunikasi massa kota untuk mengintegrasikan ruang, narasi, event, dan pengalaman dalam
satu sistem makna yang berkelanjutan. Temuan ini menegaskan pentingnya reposisi pariwisata dari
strategi promosi menuju pengelolaan komunikasi kota berbasis makna dan pengalaman.

