Peningkatan Kualitas Produk Selendang Batik Menggunakan Metode Six Sigma dengan Pendekatan DMAIC pada UMKM Hasan Batik Bandung
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas produksi selendang batik dan merumuskan
rekomendasi perbaikan untuk mengurangi cacat produk pada UMKM Hasan Batik Bandung
menggunakan metode Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze,
Improve, dan Control). Permasalahan kualitas diidentifikasi pada proses pewarnaan dan pelorodan
malam, khususnya berupa warna yang kurang pekat dan sisa lilin malam pada kain. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data primer yang diperoleh melalui
observasi langsung, data pencatatan cacat produksi, dan wawancara dengan tenaga produksi.
Tahapan DMAIC diterapkan untuk mengidentifikasi Critical to Quality (CTQ), mengukur kinerja
proses menggunakan Defect Per Opportunity (DPO), Defect Per Million Opportunities (DPMO),
dan tingkat sigma, menganalisis penyebab cacat menggunakan diagram Pareto dan Fishbone, serta
merumuskan rekomendasi perbaikan dan pengendalian. Hasil observasi terhadap 60 selendang
batik menunjukkan terdapat 25 kejadian cacat, yang terdiri atas 20 kejadian warna kurang pekat
dan 5 kejadian sisa lilin malam pada kain. Hasil pengukuran kinerja proses menunjukkan nilai
DPO sebesar 0,2083, DPMO sebesar 208.333, dan tingkat sigma sebesar 2,31. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa proses produksi masih memiliki tingkat variasi yang cukup tinggi sehingga
diperlukan perbaikan secara sistematis. Analisis Fishbone menunjukkan bahwa faktor metode dan
material merupakan faktor dominan yang memengaruhi terjadinya cacat, terutama belum adanya
prosedur pewarnaan yang terstandar, ketidakkonsistenan formulasi bahan pewarna, serta
perbedaan praktik antaroperator. Rekomendasi perbaikan yang diusulkan meliputi penyusunan
Standard Operating Procedure (SOP), standardisasi formulasi bahan pewarna dan parameter
proses, pelatihan operator, pelaksanaan inspeksi proses menggunakan check sheet, serta
pemantauan kualitas secara berkala. Kerangka perbaikan yang diusulkan dapat menjadi dasar
sistematis bagi UMKM batik dalam mengurangi variasi proses dan memperkuat pengendalian
kualitas produksi.

