https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/issue/feedIKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora2026-10-25T23:09:26+07:00Jafar Octo Fernasstafflppmupiyai@gmail.comOpen Journal Systems<div id="gt-src-c" class="g-unit"> <div id="gt-src-p"> <div id="gt-src-wrap" class=""> <p>The Ikra-ith Humanities Journal is the Journal of Human Sciences, published by Universitas Persada Indonesia YAI. This scientific journal is a means of pouring out the thoughts of people who are involved in the field of Humanities, especially Communication, Management, Economics, Psychology and other social sciences. May the presence of this scientific journal help in the development and dissemination of social sciences and the humanities. 3x in a year in March, July and November every year.</p> <p>P-ISSN : <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1503564227">2597-5064</a></p> <p>E-ISSN : <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1539937343">2654-8062</a></p> <p> DOI : <a href="https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora">10.37817/ikraith-humaniora</a></p> <p><em><strong>Akreditasi Jurnal:</strong></em></p> <a title="SINTA 5" href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/5730" target="_blank" rel="noopener"><img src="/public/site/images/jafar_octo/Sertifikat_akreditasi_Humaniora_001.png"></a><br> <p> </p> </div> </div> </div>https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7403Model AISAS Pada Instagram @millssportid Dalam Mempertahankan Brand Awareness Sepatu Futsal Di Kalangan Gen-Z2026-08-23T21:45:22+07:00Maulana Raflirfl12335@student.esaunggul.ac.idHeriyanti Heriyantiheriyanti@esaunggul.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) pada akun Instagram @millssportid dalam mempertahankan brand awareness sepatu futsal Mills di kalangan Generasi Z. Penelitian ini didasari oleh persaingan ketat industri sepatu futsal lokal dengan merek global, serta tantangan menjaga kesadaran merek di tengah perubahan cepat perilaku digital Gen-Z. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal dan paradigma konstruktivisme sosial. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan key informan dari pihak internal Mills serta tiga informan dari kalangan Gen-Z yang merupakan pengikut akun @millssportid dan pengguna produk Mills, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mills menerapkan kelima tahapan model AISAS secara sistematis: tahap attention dibangun melalui visual menarik dan kolaborasi dengan atlet profesional; tahap interest dijaga dengan konten edukatif mengenai keunggulan teknologi produk; tahap search difasilitasi melalui tagar #MillsFutsalInvasion dan respons aktif admin; tahap action didorong lewat call to action yang tegas serta iklan berbayar; dan tahap share diperkuat melalui apresiasi terhadap konten buatan pengguna dan aktivasi komunitas. Penelitian ini juga menemukan bahwa tantangan seperti kejenuhan audiens dan menurunnya popularitas olahraga futsal diatasi Mills melalui strategi konten singkat dan riding the wave. Secara keseluruhan, penerapan model AISAS yang konsisten terbukti efektif dalam mempertahankan brand awareness Mills di kalangan Gen-Z.</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7527Analisis Implementasi Program Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) di RS Tk II Bhayangkara2026-09-18T22:50:06+07:00Inra Roiko Sihiteinra.sihite@student.uhn.ac.idVera Pasaribuinra.sihite@student.uhn.ac.idKepler Sinagainra.sihite@student.uhn.ac.idArtha Lumbantobinginra.sihite@student.uhn.ac.id<p>Program Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) merupakan program Pemerintah Kota Medan yang bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan serta mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasinya di RS TK II Bhayangkara Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis implementasi kebijakan menggunakan teori George C. Edward III yang meliputi empat aspek, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2026 dengan melibatkan informan yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penerimaan pelayanan JKMB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program JKMB di RS TK II Bhayangkara Medan telah berjalan dengan baik. Pelaksanaan program didukung oleh komunikasi dan koordinasi antar pihak terkait, ketersediaan sumber daya, komitmen pelaksana, serta adanya standar operasional prosedur (SOP) dan pembagian tugas yang jelas. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa hambatan, yaitu kurangnya pemahaman pasien mengenai persyaratan dan alur pelayanan, ketidaklengkapan dokumen, kepadatan pasien, proses verifikasi, gangguan sistem, serta perubahan informasi terkait pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan terutama dalam meningkatkan kejelasan informasi kepada masyarakat, memperkuat koordinasi antarunit, dan meningkatkan keandalan sistem administrasi agar implementasi Program JKMB dapat berjalan secara lebih efektif dan optimal.</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7576The Implementation of Good Governance in Improving the Quality of Public Services in Bogor City2026-10-05T11:29:53+07:00Yogie PradanaYogiecaracal022@gmail.comSusilo Adi Purwantorosusiloadip189@gmail.comHikmat Zakkyzakkyauri94@gmail.comwilopo wilopowilopo02@gmail.com<p>Pemerintah Kota Bogor secara konsisten melakukan transformasi fundamental dalam tata kelola pemerintahan melalui internalisasi prinsip-prinsip good governance sebagai motor utama peningkatan kualitas pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk membedah secara holistik dan komprehensif implementasi pilar-pilar good governance—terutama transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, penegakan hukum, serta efisiensi dan efektivitas—dalam ekosistem pelayanan publik di Kota Bogor, sekaligus memetakan tantangan struktural dan kultural yang menghambat akselerasi kualitas layanan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study), data dihimpun melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan strategis di Disdukcapil, DPMPTSP, Inspektorat, dan Diskominfo Kota Bogor, disertai observasi lapangan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Grha Tatanan Parahita serta analisis dokumen kinerja dan kebijakan (LAKIP dan Perwali). Temuan penelitian mengungkap bahwa implementasi good governance di Kota Bogor telah mencapai level kemajuan yang signifikan, ditandai dengan integrasi layanan digital lintas sektoral melalui platform Bogor Single Window (BSW), optimalisasi pusat layanan terpadu MPP, dan mekanisme responsivitas pengaduan yang terintegrasi dengan sistem nasional SP4N-LAPOR!. Namun demikian, efektivitas pencapaian standar pelayanan prima masih terhambat oleh disparitas literasi digital warga, kendala interoperabilitas data antar-instansi (silo birokrasi), resistensi terhadap perubahan mindset aparatur, serta keterbatasan infrastruktur teknologi di wilayah outlying. Penelitian ini merumuskan rekomendasi strategis berupa penguatan arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), peningkatan kapasitas SDM yang berorientasi pada service excellence, serta program edukasi literasi digital berbasis komunitas untuk memperkecil kesenjangan aksesibilitas.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci: Good Governance, Pelayanan Publik, Kota Bogor, Transparansi, Akuntabilitas, Mal Pelayanan Publik.</strong></p>2026-10-05T11:29:52+07:00Copyright (c) 2026 IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniorahttps://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7569STUDI KOMPARATIF PERAN PETUGAS IMIGRASI PEMBINA DESA (PIMPASA) DAN BHABINKAMTIBMAS SEBAGAI INSTRUMEN PEMOLISIAN BERBASIS KOMUNITAS DI TINGKAT DESA2026-10-05T11:46:39+07:00Rayhaan Arsyadrayhaanarsyad2003@gmail.comAgung Sulistyo Purnomotheagungpurmomo@gmail.comVirra Wirdhiningsihtheagungpurmomo@gmail.com<p><em>Village-level state presence relies on officers who can bridge formal policy with local social realities. Two figures currently performing this bridging role in Indonesia are the Village Development Immigration Officer (PIMPASA) under the Directorate General of Immigration and the Community Security and Order Development Officer (Bhabinkamtibmas) under the Indonesian National Police. Although both apply a community-based policing model and frequently collaborate in the field, they originate from different institutions, legal bases, and target orientations. This article compares the position, legal basis, duties, functions, authority, area coverage, approach methods, and expected outcomes of both roles, and identifies their similarities, differences, and potential synergies. The study employs a descriptive-comparative method through desk research on relevant regulations, policy documents, and academic literature. Findings show that PIMPASA and Bhabinkamtibmas share similarities as single-officer village-level apparatus emphasizing a pre-emptive function through partnership and trust-building, yet differ in institutional maturity, authority scope, and target specificity: Bhabinkamtibmas holds a broader mandate and is deployed almost evenly across villages nationwide, while PIMPASA maintains a narrower but deeper focus on immigration issues in selected assisted villages. The article recommends formally strengthening collaboration between the two through a collaborative-governance framework so that PIMPASA's immigration expertise and Bhabinkamtibmas's wider network can complement one another</em></p>2026-10-05T11:46:39+07:00Copyright (c) 2026 IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniorahttps://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7589An Analysis of Errors Made by Test-Takers in the Structure and Written Expression Section of the TOEFL ITP2026-10-06T21:49:16+07:00Jonathan Tanihardjojtanihardjo@bundamulia.ac.idRex Stardyrexstardy@yahoo.com<p>Penelitian ini menganalisis kesalahan tata bahasa yang dilakukan oleh dosen dari program studi non-Bahasa Inggris pada bagian Structure and Written Expression TOEFL ITP. Dengan desain deskriptif kualitatif, penelitian ini mengkaji jawaban 27 dosen Universitas Bunda Mulia terhadap 40 soal latihan yang dikerjakan dalam waktu 25 menit. Kesalahan diidentifikasi, diklasifikasikan berdasarkan topik tata bahasa, lalu diringkas menggunakan frekuensi dan persentase. Soal mencakup sebelas topik, dengan jumlah terbanyak pada kelas kata, frasa, dan klausa relatif. Temuan menunjukkan kesulitan pada tata bahasa tingkat kata maupun kalimat. Persentase kesalahan tertinggi pada butir soal terdapat pada satu soal agreement (88,89%), penggunaan preposisi (85,19%), dan pemilihan kata (85,19%). Peserta juga mengalami kesulitan pada konstruksi participial, klausa relatif, struktur kalimat, konstruksi paralel, appositive, perbandingan, modifier, dan urutan kata. Secara keseluruhan, paparan bahasa Inggris dalam pekerjaan tidak selalu menjamin penguasaan bentuk tata bahasa yang diujikan dalam TOEFL ITP, terutama ketika jawaban bergantung pada fungsi sintaktis, bukan hanya makna umum.</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7619Komunikasi Digital Multiplatform Krontjong Toegoe dalam Merawat Keberlanjutan Musik Keroncong2026-10-12T12:56:33+07:00Joachim David Magetanapuangjoachim.david@upi-yai.ac.idSiti Komsiahsiti.komsiah@upi-yai.ac.idWoro Harkandi Kencanaworo.harkandi@upi-yai.ac.idDewi Maharani Rachamaningsihdewi.maharani@ecampus.ut.ac.id<p>Krontjong Toegoe merupakan salah satu warisan budaya takbenda tertua di Jakarta yang mengusung sejarah akulturasi musik Portugis-Kreol abad ke-17 di Kampung Tugu. Kendati demikian, pergeseran konsumsi media ke ekosistem digital berbasis algoritma menjadi tantangan eksistensial bagi keberlanjutan musik keroncong di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untukmengkaji bagaimana strategi komunikasi digital multiplatform Krontjong Toegoe melalui Instagram, YouTube, TikTok, Spotify, dan situs web resmi dalammerawat keberlanjutan musik keroncong.Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilandasiTeoriMediatisasi, IntegratedMarketing Communication (IMC), danKonvergensiMedia, data dikumpulkanmelalui wawancara mendalam dengan pihak pengelola, observasi netnografi, serta analisis matriks performa analitik lintas platform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Krontjong Toegoe menerapkan pembagian fungsi multiplatform secara sistematis: TikTok dan Instagram Reels difungsikan sebagai saluran top-of-funnel untuk jangkauan visual pendek (jangkauan non-follower Instagram mencapai 73,6%; lalu lintas FYP TikTok sebesar 81%); YouTube berfungsi sebagai arsip video durasi panjang (189,2K tayangan); Spotify sebagai sarana distribusi audio berkelanjutan (14,9K pendengar dengan 85% demografi muda); dan situs web sebagai pusat validitas institusional. Meskipun dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia yang terspesialisasi, Krontjong Toegoe tetap menjaga autentisitas budaya melalui pendekatan musik hibrida yang membalut lagu-lagu populer modern dengan instrumen khas Keroncong Tugu. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris mengenai bagaimana pelaku budaya tradisional memanfaatkan ekosistem digital untuk memperluas batas audiens tanpa mengorbankan identitas warisannya.</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7624Pengaruh Self-Efficacy terhadap Kemampuan Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa Vokasi Universitas Airlangga dalam Mendukung Kesiapan Kerja2026-10-13T21:10:30+07:00Dwina Rahmadhina Fareradwina.rahmadhina.farera-2024@vokasi.unair.ac.idNadiefa Aulia Ramadaninadiefa.aulia.ramadani-2024@vokasi.unair.ac.idAmaliyah Amaliyahamaliyah@vokasi.unair.ac.idErindah Dimisyqiyanierindah-dimisyqiyani@vokasi.unair.ac.idGagas Gayuh Ajigagas.gayuh.aji@vokasi.unair.ac.idRizky Amalia Sinulinggarizkyamalia@vokasi.unair.ac.id<p>Kemampuan untuk berinteraksi dengan dosen, teman sebaya, serta mitra industri merupakan aset penting bagi mahasiswa vokasi. Namun, beberapa mahasiswa masih merasakan kecemasan, enggan untuk bertanya, atau merasa kurang percaya diri saat berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari self-efficacy terhadap keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga dan untuk menunjukkan implikasinya bagi kesiapan kerja mereka. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode asosiatif-kausal dalam desain cross-sectional. Sebanyak 63 mahasiswa dipilih melalui convenience sampling dan diminta untuk mengisi kuesioner berbasis skala Likert dari 1 hingga 5. Setelah melakukan uji validitas, reliabilitas, normalitas residual, linearitas, dan homoskedastisitas, data dianalisis dengan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan komunikasi interpersonal (b = 0,726; t(61) = 5,71; p < 0,001) dengan R² = 34,8%. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dan menunjukkan besaran efek yang sebanding dengan penelitian terhadap mahasiswa lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa penguatan rasa percaya diri seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran vokasi, terutama dalam konteks praktik, penyampaian presentasi, dan simulasi keadaan kerja. Kesiapan kerja sendiri tidak diukur dalam penelitian ini, sehingga dipresentasikan sebagai implikasi praktis. Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah hasil dari teknik pengambilan sampel non-acak, sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi.</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7675Pengaruh Kualitas Produksi Film Televisi Berbasis Artificial Intelligence “Legenda Bertuah” Terhadap Tingkat Kepuasan Menonton Audiens2026-10-25T23:06:21+07:00Devina Rizkya Almira44221309@bsi.ac.idMaharani Imranmaharani.mnn@bsi.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas produksi film televisi “Legenda<br>Bertuah” di Trans7 yang berbasis Artificial Intelligence (AI) terhadap kepuasan menonton audiens.<br>Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam proses<br>produksi program televisi, termasuk pada aspek visual, audio, penyajian konten, serta efektivitas<br>penyampaian informasi. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji sejauh mana kualitas produksi<br>program yang dihasilkan mampu memengaruhi tingkat kepuasan menonton audiens.<br>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan strategi survei. Populasi dalam penelitian<br>ini adalah audiens yang pernah menonton program “Legenda Bertuah” di Trans7, dengan sampel<br>yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 130 responden. Teknik<br>pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert. Analisis<br>data menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, analisis deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, uji<br>regresi linear sederhana, uji koefisien determinasi, dan uji parsial (uji t) dengan bantuan IBM SPSS<br>Statistics versi 25.<br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produksi film televisi “Legenda Bertuah” yang<br>berbasis Artificial Intelligence (AI) berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan menonton<br>audiens. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa H₁ diterima dan H₀ ditolak, yang berarti terdapat<br>pengaruh antara kualitas produksi film televisi berdasarkan Television Production Theory sebagai<br>variabel independen terhadap kepuasan menonton audiens berdasarkan Expectation Confirmation<br>Theory sebagai variabel dependen. Semakin baik kualitas produksi program yang ditampilkan,<br>semakin tinggi pula tingkat kepuasan yang dirasakan oleh audiens.</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c) https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7676Representasi Obsesi pada Karakter Bear dalam Film Obsession 2026 (Analisis Semiotika Roland Barthes)2026-10-25T23:09:26+07:00Davina Syafa Fatiasyafadavina0606@gmail.comFarah Kamilah Siregarfarahkams@gmail.comDicky Herlambanglambangoppo34@gmail.comAgina Aqsha Br Gintingaginaaqsha167@gmail.com<p>Film Obsession (2026) merupakan film horor supranatural yang menceritakan seorang pemuda<br>bernama Bear yang menggunakan One Wish Willow agar Nikki, perempuan yang ia cintai,<br>mencintainya lebih dari siapa pun. Keinginan tersebut kemudian berkembang menjadi obsesi<br>dalam mempertahankan Nikki dengan segala cara. Penelitian ini bertujuan menganalisis<br>representasi obsesi pada karakter Bear dalam film Obsession (2026). Penelitian ini menggunakan<br>semiotika Roland Barthes dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yang menganalisis tanda<br>melalui makna denotasi, konotasi, dan mitos. Data dikumpulkan melalui metode observasi,<br>kemudian dipilih 4 adegan, yang menggambarkan sikap obsesi Bear pada Nikki. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa obsesi Bear direpresentasikan melalui empat aspek, yaitu ketakutan yang<br>menjadi akar obsesi, penghindaran terhadap pilihan, idealisasi objek obsesi, dan penyangkalan<br>terhadap realita. Pada tingkat mitos, film memperlihatkan bagaimana obsesi disamarkan sebagai<br>bentuk cinta, kesetiaan, atau kegigihan, padahal di dalamnya terdapat kecenderungan untuk<br>mengontrol, mendominasi, dan menolak kenyataan. Film Obsession (2026) merepresentasikan<br>obsesi sebagai keterikatan yang tidak sehat ketika keinginan untuk memiliki seseorang lebih<br>diutamakan daripada menghargai perasaan, kebebasan, pilihan, dan identitas orang tersebut</p>2026-11-01T00:00:00+07:00Copyright (c)