IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora
https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora
<div id="gt-src-c" class="g-unit"> <div id="gt-src-p"> <div id="gt-src-wrap" class=""> <p>The Ikra-ith Humanities Journal is the Journal of Human Sciences, published by Universitas Persada Indonesia YAI. This scientific journal is a means of pouring out the thoughts of people who are involved in the field of Humanities, especially Communication, Management, Economics, Psychology and other social sciences. May the presence of this scientific journal help in the development and dissemination of social sciences and the humanities. 3x in a year in March, July and November every year.</p> <p>P-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1503564227">2597-5064</a></p> <p>E-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1539937343">2654-8062</a></p> <p> DOI : <a href="https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora">10.37817/ikraith-humaniora</a></p> <p><em><strong>Akreditasi Jurnal:</strong></em></p> <a title="SINTA 5" href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/5730" target="_blank" rel="noopener"><img src="/public/site/images/jafar_octo/Sertifikat_akreditasi_Humaniora_001.png"></a><br> <p> </p> </div> </div> </div>Universitas Persada Indonesia YAIen-USIKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora2597-5064Model AISAS Pada Instagram @millssportid Dalam Mempertahankan Brand Awareness Sepatu Futsal Di Kalangan Gen-Z
https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7403
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) pada akun Instagram @millssportid dalam mempertahankan brand awareness sepatu futsal Mills di kalangan Generasi Z. Penelitian ini didasari oleh persaingan ketat industri sepatu futsal lokal dengan merek global, serta tantangan menjaga kesadaran merek di tengah perubahan cepat perilaku digital Gen-Z. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal dan paradigma konstruktivisme sosial. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan key informan dari pihak internal Mills serta tiga informan dari kalangan Gen-Z yang merupakan pengikut akun @millssportid dan pengguna produk Mills, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mills menerapkan kelima tahapan model AISAS secara sistematis: tahap attention dibangun melalui visual menarik dan kolaborasi dengan atlet profesional; tahap interest dijaga dengan konten edukatif mengenai keunggulan teknologi produk; tahap search difasilitasi melalui tagar #MillsFutsalInvasion dan respons aktif admin; tahap action didorong lewat call to action yang tegas serta iklan berbayar; dan tahap share diperkuat melalui apresiasi terhadap konten buatan pengguna dan aktivasi komunitas. Penelitian ini juga menemukan bahwa tantangan seperti kejenuhan audiens dan menurunnya popularitas olahraga futsal diatasi Mills melalui strategi konten singkat dan riding the wave. Secara keseluruhan, penerapan model AISAS yang konsisten terbukti efektif dalam mempertahankan brand awareness Mills di kalangan Gen-Z.</p>Maulana RafliHeriyanti Heriyanti
Copyright (c)
2026-11-012026-11-011031610.37817/ikraith-humaniora.v10i3.7403Analisis Implementasi Program Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) di RS Tk II Bhayangkara
https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7527
<p>Program Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) merupakan program Pemerintah Kota Medan yang bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan serta mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasinya di RS TK II Bhayangkara Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis implementasi kebijakan menggunakan teori George C. Edward III yang meliputi empat aspek, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2026 dengan melibatkan informan yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penerimaan pelayanan JKMB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program JKMB di RS TK II Bhayangkara Medan telah berjalan dengan baik. Pelaksanaan program didukung oleh komunikasi dan koordinasi antar pihak terkait, ketersediaan sumber daya, komitmen pelaksana, serta adanya standar operasional prosedur (SOP) dan pembagian tugas yang jelas. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa hambatan, yaitu kurangnya pemahaman pasien mengenai persyaratan dan alur pelayanan, ketidaklengkapan dokumen, kepadatan pasien, proses verifikasi, gangguan sistem, serta perubahan informasi terkait pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan terutama dalam meningkatkan kejelasan informasi kepada masyarakat, memperkuat koordinasi antarunit, dan meningkatkan keandalan sistem administrasi agar implementasi Program JKMB dapat berjalan secara lebih efektif dan optimal.</p>Inra Roiko SihiteVera PasaribuKepler SinagaArtha Lumbantobing
Copyright (c)
2026-11-012026-11-01103726The Implementation of Good Governance in Improving the Quality of Public Services in Bogor City
https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7576
<p>Pemerintah Kota Bogor secara konsisten melakukan transformasi fundamental dalam tata kelola pemerintahan melalui internalisasi prinsip-prinsip good governance sebagai motor utama peningkatan kualitas pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk membedah secara holistik dan komprehensif implementasi pilar-pilar good governance—terutama transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, penegakan hukum, serta efisiensi dan efektivitas—dalam ekosistem pelayanan publik di Kota Bogor, sekaligus memetakan tantangan struktural dan kultural yang menghambat akselerasi kualitas layanan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study), data dihimpun melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan strategis di Disdukcapil, DPMPTSP, Inspektorat, dan Diskominfo Kota Bogor, disertai observasi lapangan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Grha Tatanan Parahita serta analisis dokumen kinerja dan kebijakan (LAKIP dan Perwali). Temuan penelitian mengungkap bahwa implementasi good governance di Kota Bogor telah mencapai level kemajuan yang signifikan, ditandai dengan integrasi layanan digital lintas sektoral melalui platform Bogor Single Window (BSW), optimalisasi pusat layanan terpadu MPP, dan mekanisme responsivitas pengaduan yang terintegrasi dengan sistem nasional SP4N-LAPOR!. Namun demikian, efektivitas pencapaian standar pelayanan prima masih terhambat oleh disparitas literasi digital warga, kendala interoperabilitas data antar-instansi (silo birokrasi), resistensi terhadap perubahan mindset aparatur, serta keterbatasan infrastruktur teknologi di wilayah outlying. Penelitian ini merumuskan rekomendasi strategis berupa penguatan arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), peningkatan kapasitas SDM yang berorientasi pada service excellence, serta program edukasi literasi digital berbasis komunitas untuk memperkecil kesenjangan aksesibilitas.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci: Good Governance, Pelayanan Publik, Kota Bogor, Transparansi, Akuntabilitas, Mal Pelayanan Publik.</strong></p>Yogie PradanaSusilo Adi PurwantoroHikmat Zakkywilopo wilopo
Copyright (c) 2026 IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora
2026-10-052026-10-051032734STUDI KOMPARATIF PERAN PETUGAS IMIGRASI PEMBINA DESA (PIMPASA) DAN BHABINKAMTIBMAS SEBAGAI INSTRUMEN PEMOLISIAN BERBASIS KOMUNITAS DI TINGKAT DESA
https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7569
<p><em>Village-level state presence relies on officers who can bridge formal policy with local social realities. Two figures currently performing this bridging role in Indonesia are the Village Development Immigration Officer (PIMPASA) under the Directorate General of Immigration and the Community Security and Order Development Officer (Bhabinkamtibmas) under the Indonesian National Police. Although both apply a community-based policing model and frequently collaborate in the field, they originate from different institutions, legal bases, and target orientations. This article compares the position, legal basis, duties, functions, authority, area coverage, approach methods, and expected outcomes of both roles, and identifies their similarities, differences, and potential synergies. The study employs a descriptive-comparative method through desk research on relevant regulations, policy documents, and academic literature. Findings show that PIMPASA and Bhabinkamtibmas share similarities as single-officer village-level apparatus emphasizing a pre-emptive function through partnership and trust-building, yet differ in institutional maturity, authority scope, and target specificity: Bhabinkamtibmas holds a broader mandate and is deployed almost evenly across villages nationwide, while PIMPASA maintains a narrower but deeper focus on immigration issues in selected assisted villages. The article recommends formally strengthening collaboration between the two through a collaborative-governance framework so that PIMPASA's immigration expertise and Bhabinkamtibmas's wider network can complement one another</em></p>Rayhaan ArsyadAgung Sulistyo PurnomoVirra Wirdhiningsih
Copyright (c) 2026 IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora
2026-10-052026-10-051033541An Analysis of Errors Made by Test-Takers in the Structure and Written Expression Section of the TOEFL ITP
https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/view/7589
<p>Penelitian ini menganalisis kesalahan tata bahasa yang dilakukan oleh dosen dari program studi non-Bahasa Inggris pada bagian Structure and Written Expression TOEFL ITP. Dengan desain deskriptif kualitatif, penelitian ini mengkaji jawaban 27 dosen Universitas Bunda Mulia terhadap 40 soal latihan yang dikerjakan dalam waktu 25 menit. Kesalahan diidentifikasi, diklasifikasikan berdasarkan topik tata bahasa, lalu diringkas menggunakan frekuensi dan persentase. Soal mencakup sebelas topik, dengan jumlah terbanyak pada kelas kata, frasa, dan klausa relatif. Temuan menunjukkan kesulitan pada tata bahasa tingkat kata maupun kalimat. Persentase kesalahan tertinggi pada butir soal terdapat pada satu soal agreement (88,89%), penggunaan preposisi (85,19%), dan pemilihan kata (85,19%). Peserta juga mengalami kesulitan pada konstruksi participial, klausa relatif, struktur kalimat, konstruksi paralel, appositive, perbandingan, modifier, dan urutan kata. Secara keseluruhan, paparan bahasa Inggris dalam pekerjaan tidak selalu menjamin penguasaan bentuk tata bahasa yang diujikan dalam TOEFL ITP, terutama ketika jawaban bergantung pada fungsi sintaktis, bukan hanya makna umum.</p>Jonathan TanihardjoRex Stardy
Copyright (c)
2026-11-012026-11-011034255