PERMASALAHAN KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN DI INDONESIA (STUDI KASUS PT. SRITEX TBK.)
Abstract
Pengangguran tetap menjadi tantangan makroekonomi dan sosial yang terus-menerus di Indonesia, didorong oleh pertumbuhan angkatan kerja yang melampaui penciptaan lapangan kerja, ketidaksesuaian keterampilan, persyaratan perekrutan yang ketat, substitusi teknologi, dan tekanan biaya perusahaan. Makalah ini menerapkan analisis kualitatif deskriptif melalui tinjauan pustaka terstruktur dan studi kasus, referensi peraturan, dan laporan sektoral, dilengkapi dengan pemeriksaan kasus singkat PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Sintesis menunjukkan bahwa pengangguran dibentuk oleh perubahan struktural, gesekan dalam pencocokan pekerjaan, pola musiman, dan kurangnya lapangan kerja, sementara pengangguran yang tinggi melemahkan daya beli dan memperkuat tekanan fiskal, kemiskinan, ketidaksetaraan, risiko kejahatan, dan tekanan rumah tangga. BPS melaporkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,45% pada Februari 2023 (sekitar 7,99 juta orang). Kebangkrutan Sritex menunjukkan bagaimana penurunan daya saing, gangguan rantai pasokan, dan utang yang besar dapat berujung pada PHK massal, dengan 10.665 pekerja kehilangan pekerjaan dan operasi berhenti pada 1 Maret 2025. Respons yang ada seperti Kartu Prakerja, revitalisasi kejuruan, dukungan untuk UMKM/kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja berbasis infrastruktur, dan intermediasi pasar tenaga kerja memerlukan penargetan yang lebih kuat, penyebaran regional yang lebih baik di luar pusat kota, dan keselarasan yang lebih erat dengan permintaan industri. Implikasi disoroti untuk koordinasi lintas sektor antara pendidikan, kebijakan industri, dan perlindungan sosial, untuk mengurangi ketidaksesuaian dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja jangka panjang secara berkelanjutan.


