Kesenjangan Petani Sawit Inti dan Plasma dalam Perspektif Rational Peasant: Implikasi Penguatan Kelembagaan

  • Sintia Nur Afika Universitas Riau
  • Taryono Taryono Universitas Riau
  • Andini Anugrah Universitas Riau
  • Sinta Ramadani Universitas Riau
  • M.Gea Claudya Universitas Riau

Abstrak

Perkebunan kelapa sawit memegang posisi strategis dalam struktur perekonomian Indonesia, namun kesenjangan produktivitas antara petani inti dan plasma hingga kini masih menjadi tantangan serius. Artikel ini mengkaji akar persoalan tersebut melalui pendekatan teori rational peasant, yang memandang keputusan petani kecil sebagai respons rasional terhadap keterbatasan modal, risiko ekonomi, dan minimnya dukungan kelembagaan. Bibit tidak bersertifikat, rendahnya adopsi teknologi, serta lemahnya akses pembiayaan formal merupakan konsekuensi logis dari kalkulasi risiko yang dilakukan petani swadaya dalam kondisi ketidakpastian pasar. Kajian ini juga menganalisis hambatan implementasi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang keduanya memerlukan fondasi kelembagaan yang kuat agar dapat diakses secara optimal oleh petani kecil. Temuan menunjukkan bahwa penguatan kelembagaan petani melalui kelompok tani dan koperasi adalah kunci utama dalam memutus lingkaran produktivitas rendah, karena kelembagaan berperan sebagai jembatan akses terhadap modal, teknologi, pendampingan teknis, dan program pemerintah. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem perkebunan sawit rakyat yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##
Diterbitkan
2026-07-01