Puisi Sebagai Media Resistensi Buruh Perempuan terhadap Penindasan di Lantai Produksi Pabrik Garmen

(Studi pada Puisi Karya DL, Buruh Perempuan Pabrik Garmen di KBN Cakung, Jakarta Utara)

  • Nurul Fauziah Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta
  • Titis Nurwulan Suciati Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta
  • Yessi Sri Utami Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta
Kata Kunci: Buruh perempuan; perlawanan simbolik; puisi; ruang publik alternatif; industri garmen

Abstrak

 

Buruh perempuan di industri garmen menghadapi berbagai bentuk penindasan, seperti pelanggaran hak reproduksi, kekerasan verbal, dan pembungkaman suara, sementara akses terhadap saluran advokasi formal masih terbatas. Puisi menjadi media alternatif bagi buruh perempuan untuk mengartikulasikan pengalaman ketidakadilan secara langsung. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana puisi karya DL, buruh perempuan pabrik garmen di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Utara, berfungsi sebagai media resistensi simbolik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Anaylisis/ CDA) model Norman Fairclough yang difokuskan pada analisis teks melalui tiga fungsi bahasa, yaitu ideasional, relasional, dan identitas. Data penelitian berupa teks puisi yang terdiri dari 31 baris dan diproduksi serta dibacakan oleh penulisnya pada peringatan Hari Marsinah dan Hari Buruh Internasional tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan, secara ideasional puisi merepresentasikan penindasan melalui pergeseran aktor dari sistem kerja yang abstrak, menuju mandor sebagai pelaku langsung, hingga pabrik sebagai institusi yang mereproduksi relasi kuasa. Secara relasional, puisi membangun posisi tutur yang berkembang dari penegakan hak reproduksi menuju ajakan membangun solidaritas kolektif. Sementara, secara identitas terjadi transformasi dari “aku” menjadi “kami” yang menandai perubahan pengalaman personal menjadi kesadaran politik bersama. Temuan ini menunjukkan, puisi berfungsi sebagai media komunikasi advokasi, ruang publik alternatif (subaltern counterpublic), sekaligus bentuk resistensi simbolik yang memungkinkan buruh perempuan memproduksi pengetahuan tanding mengenai ketidakadilan yang mereka alami.

Diterbitkan
2026-07-05