Strategi Komunikasi Digital Guru dalam Memanfaatkan Interactive Flat Panel sebagai Alat Pembelajaran Siswa KB Al‑Hafidz
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan strategi komunikasi digital guru dalam memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran siswa KB Al-Hafidz. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme, dianalisis menggunakan Model Komunikasi Harold Lasswell yang didukung oleh kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap guru, kepala sekolah, serta orang tua siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi digital guru mencakup perencanaan konten digital, pelaksanaan komunikasi interaktif, pengelolaan umpan balik siswa, serta evaluasi dan refleksi pembelajaran. Proses komunikasi tersebut dianalisis melalui lima unsur Lasswell, yaitu guru sebagai komunikator, konten digital sebagai pesan, IFP sebagai saluran, siswa sebagai komunikan, dan peningkatan antusiasme belajar sebagai efek, yang menunjukkan bahwa komunikasi pembelajaran berlangsung secara utuh. Kompetensi guru di balik peran sebagai komunikator dan perancang pesan dijelaskan lebih lanjut melalui integrasi TPACK, yaitu perpaduan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan IFP dapat memperkuat kualitas komunikasi pembelajaran apabila guru mampu merancang pesan, memilih saluran, dan membangun interaksi yang sesuai dengan kebutuhan siswa PAUD.
Secara lebih rinci, temuan penelitian ini menegaskan bahwa kelima unsur Model Komunikasi Lasswell saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam konteks pembelajaran berbasis IFP. Guru sebagai komunikator tidak akan mampu menyampaikan pesan secara efektif tanpa didukung penguasaan konten dan pemilihan saluran yang tepat, sebagaimana siswa sebagai komunikan juga tidak akan menunjukkan efek belajar yang optimal apabila proses perencanaan dan pelaksanaan komunikasi tidak memperhatikan karakteristik perkembangan anak usia dini.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa kompetensi TPACK guru KB Al-Hafidz, meskipun dikembangkan secara mandiri tanpa pelatihan formal, telah mampu mendukung terbentuknya strategi komunikasi digital yang runtut mulai dari perencanaan konten, pelaksanaan interaksi, pengelolaan umpan balik, hingga evaluasi. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa keberhasilan integrasi teknologi dalam pembelajaran anak usia dini tidak semata-mata ditentukan oleh ketersediaan perangkat, melainkan oleh kompetensi komunikasi dan pedagogis guru dalam memanfaatkan perangkat tersebut secara bermakna.

