PENERAPAN TERAPI ACCEPTENCE AND COMMITMENT (ACT) UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA KELOMPOK WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN BARU DI RUTAN PONDOK BAMBU KELAS IA JAKARTA TIMUR
Abstract
Perubahan status menjadi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) secara tiba-tiba dapat menimbulkan guncangan emosional dan meningkatkan risiko munculnya kecemasan akibat ketidakpastian hukum, lingkungan baru, hilangnya kebebasan, stigma sosial, serta keterbatasan layanan di dalam rumah tahanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan WBP baru di Rutan Pondok Bambu Kelas IA serta menguji efektivitas penerapan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dalam menurunkan tingkat kecemasan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan intervensi konseling kelompok dengan lima orang klien. Asesmen dilakukan melalui wawancara, observasi, tes psikologi (SPM, DAP, BAUM, HTP, dan Wartegg), serta pengukuran pre-test dan post-test menggunakan Beck Anxiety Inventory (BAI). Hasil pre-test menunjukkan rata-rata skor kecemasan sebesar 41,6 yang termasuk kategori tinggi. Setelah 10 kali pertemuan intervensi ACT, terjadi penurunan tingkat kecemasan rata-rata sebesar 20,6%. Penurunan individu bervariasi antara 10% hingga 28%. Selain penurunan skor kecemasan, klien menunjukkan perubahan perilaku positif seperti lebih terbuka, lebih tenang, optimis, emosi lebih stabil, serta lebih siap menghadapi persidangan. Hasil ini menunjukkan bahwa konseling kelompok dengan pendekatan ACT cukup efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada WBP baru.
